Selasa, 28 Mei 2019

Danau Toba (9) - Situs Batu Sira

Situs Batu Sira/Parulubalangan.

Dalam bahasa Batak Toba, sira berarti garam.  Mungkin karena batu ini adalah batu yang gampang hancur dan menyerupai garam makanya disebut batu garam.


Penjaga situs Batu Sira ini bercerita kepada kami tentang bagaimana hukuman dijalankan pada masa itu. Dalam ceritanya perkawinan semarga sa Parna (Pomparan ni Raja Nai Ambaton) itu dilarang atau tidak diperkenankan.


Adalah pada jaman dahulu seorang lelaki menikahi perempuan sa Parna nya sehingga dia harus dihukum oleh Raja. Yg perempuan dibebaskan dari hukuman karena dia dibohongi oleh calon suaminya waktu itu. Si Lelaki dihukum  disidang dikursi Pasidangan Batu Sira. Terhukum akan dipasung selama beberapa hari tanpa makan dan minum hingga akhirnya tiba waktunya untuk dieksekusi dihukum gantung diantara dua buah batu dengan kaki diikat lalu darahnya ditampung melalui tulang belakangnya yang ditusuk pakai bambu dan darahnya ditampung.Ritual selanjutnya adalah jantung dan hatinya diambil lalu dicampur ke dalam gulai daging kerbau/babi. Gulai ini dibagi-bagikan ke semua penduduk supaya dosa-dosa si penjahat hilang dari muka bumi.  Dan darahnya setelah dibiarkan sehari  membeku darah itu dibagi-bagikan untuk dimakan bersama-sama. Huuu. . .  serem ya. Kemudian lelaki itu dikuburkan berdiri tegak.



Tampak Batu sebelah kiri adalah lelaki yg terhukum dan istrinya adalah batu yang menunduk disebelah kanan .Dalam ceritanya istrinya tidak dihukum tapi diasingkan ke hutan sampai melahirkan. (Foto dipinjam dari google).



Dalam kesempatan ini saya diberi kesempatan untuk naik dan masuk ke Rumah Bolon. Rumah Bolon ini umumnya berpintu rendah yang maknanya agar tamu yang datang selalu hormat pada pemilik rumah dan orang yang ada  didalamnya.



Didalam rumah bolon tersimpan Tongkat milik Raja, tempat minuman dan tempat obat yang biasanya benda benda ini selalu dibawa bila Raja bepergian. Beruntung temanku Guntur diberi kesempatan untuk memakai benda benda ini untuk kami foto. Nggak semua orang lho bisa diberi kesempatan untuk membawa benda benda ini keluar dari Rumah Bolon. Mungkin waktu itu kami lagi bernasib baik.
Sayang sekali keteika sampai disini batere kamera saja low, sehingga foto foto diatas saja pinjam dari google untuk melengkapi cerita . Foto saya dan Guntur dipinjam dari hasil jepretannya Hp nya Guntur. Terima kasih juga buat temanku Guntur dan istrinya yang udah berbaik hati menemani jalan jalan kami keliling Samosir.
Hikmah yang saya ambil dari perjalanan kami dari tanggal 5 Februari 2016 sampai 8Februari 2016 kami jadi merasa akrab antara satu sama lain. Semoga lain waktu bisa jalan-jalan bareng lagi dilain kesempatan. Salam traveler.

0 komentar:

Posting Komentar