Situs Ompu Guru Tatea Bulan.
Beruntungnya kami, walaupun hari hujan bisa juga sampai ke Pusuk Buhit. daerah ini tepatnya berada di Desa Limbong Sagala, kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Toba-Samosir. Untuk menuju ketempat ini jalan menanjak, tempatnya tinggi diatas bukit, butuh kesabaran untuk sampai kesini. Begitu sampai ternyata udah banyak rombongan yg sampai duluan dan kejebak hujan. Waktu hujan berhenti datang rombongan baru lagi. Tempat ini sangat di sakralkan oleh suku Batak, biasanya para peziarah menghaturkan doa di hadapan patung patung ini.
Umumnya warga suku Batak menganggap Guru Tatea Bulan adalah leluhur yang suci. Berada di rumah persembahan Guru Tatea Bulan diibaratkan sebagai sebuah pertemuan antara nenek moyang dan para cucu.
Bangunan disisi kiri, ada empat patung, tiga diantaranya menumbuk padi dan satunya menampi beras.
Semua patung-patung disini menceritakan tentang asal mula kehidupan dan sejarah suku Batak dimasa lalu.
Bagi orang Batak, anak laki-laki sulung adalah si pembawa nama bagi keluarganya dan mereka harus tahu cerita asal usul suku batak agar dapat menceritakannya pada anak-anak dan keturunannya.
![]() |
| Dibelakangku ada tujuh tampilan Raja Uti. Dalam legendanya Raja Uti tidak punya tangan dan kaki dan bisa berubah menjadi tujuh rupa. |
Pusuk Buhit adalah tempat asal muasal suku Batak. Disinilah leluhur pertama Suku Batak diturunkan oleh Tuhan Mulajadi Nabolon. Di gunung inilah pertama kali, Deak Parujar, yang menurut keyakinan tradisi Batak merupakan dewi penciptaan orang Batak, memulai menciptakan kehidupan. Ia pun menurunkan generasi selanjutnya yakni Si Raja Batak. Si Raja Batak inilah yang kemudian dianggap generasi awal dimulainya peradaban modern masyarakat Batak.
Menurut cerita Batak (Toba), Raja Uti yakni cucu dari Si Raja Batak ketika lahir tubuhnya tidak memiliki kaki, dan tangan, bentuknya sekedar gumpalan daging. Tetapi kemudian disempurnakan berkat doa dan meditasi yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Raja Uti mendapat tempat terpenting dalam spiritual orang Batak. Ia merupakan pengantara manusia dengan Mulajadi Nabolon (Sang Pencipta). Raja Uti dianggap sebagai peletak dasar hukum dan aturan masyarakat Batak. Ia dikenal sakti dan hidup abadi. Raja Uti menjadi pusat spiritual bagi masyarakat Batak dan masyarakat Batak menaruh hormat pada tokoh ini. Secara lengkap, arketip Raja Uti beserta orangtua dan saudara-saudaranya ada di kaki Gunung Pusuk Buhit.
Sangking dihormatinya, Raja Uti pun memiliki 7 rupa dan penyebutan, yakni; Ompu Raja Uti, Ompu Raja Pusuk Buhit, Ompu Raja Gumelleng-gelleng, Ompu Raja Biak-biak, Ompu Raja Parhata, Ompu Raja Hasaktian dan Ompu Raja Hatorusan. Masing-masing rupa dan penyebutan itu didasarkan atas fungsi dan ketokohannya di dalam spiritualitas masyarakat Batak.
Adapun si Raja Batak (Ompu Guru Tatea Bulan) mempunyai dua orang putra yaitu: 1. Tuan Doli dan 2. Raja Isumbaon.
Tuan Doli mempunyai 5 (lima) orang putra, yaitu: 1. Raja Biakbiak ( Raja Uti ) 2. Saribu Raja 3. Limbong Mulana 4. Sagala Raja 5. Silau Raja.
Raja Biakbiak adalah putra sulung Guru Tatea Bulan. Raja Biakbiak atau juga disebut dengan Raja Uti tidaklah mempunyai keturunan.
Saribu Raja adalah putra kedua Guru Tatea Bulan. Saribu Raja mempunyai 2 (dua) orang putra yang dilahirkan oleh 2 (dua) istri. Istri pertama Saribu Raja adalah Siboru Pareme yang melahirkan Raja Lontung (benarkah anak dari Sariburaja?) dan istri kedua Saribu Raja adalah Nai Mangiring Laut yang melahirkan Raja Borbor.
Raja Lontung mempunyai 7 (tujuh) orang putra, yaitu:
- Sinaga, menurunkan marga Sinaga dan cabang-cabangnya
- Situmorang, menurunkan marga Situmorang dan cabang-cabangnya
- Pandiangan, menurunkan Perhutala dan Raja Humirtap, Raja Sonang (Toga Gultom, Toga Samosir, Toga Pakpahan, Toga Sitinjak) dan cabang-cabangnya
- Nainggolan, menurunkan marga Nainggolan dan cabang-cabangnya anatara lain Lumban Nahor, Batuara, Parhusip, Lumban raja
- Simatupang, menurunkan marga Togatorop, Sianturi dan Siburian
- Aritonang, menurunkan marga Ompu Sunggu, Rajagukguk, dan Simaremare
- Siregar, menurunkan marga Siregar Silo (Sormin), Dongoran, Silali, dan Sianggian.
Keturunan Raja Borbor (anak dari istri kedua Saribu raja) membentuk rumpun persatuan yang disebut dengan Borbor yang terdiri dari marga Pasaribu, Batubara, Harahap, Parapat, Matondang, Sipahutar, Tarihoran, Saruksuk, Lubis, Pulungan, Hutasuhut, Tanjung serta Daulay.
Perjalanan kami selanjutnya kami lanjutkan menuju situs sakral Batu Hobon.
Yuk ikuti cerita dan jalan-jalan kami. Salam traveler.
*cerita dikutip dari wikipedia org dan rangkuman dari berbagai sumber di google






0 komentar:
Posting Komentar