Aek Sipitu Dai – Air Pancuran Tujuh Rasa.
Hoala. . . perjalanan kami hari ini berlanjut ke sebuah tempat mata air spiritual bagi suku Batak yaitu Aek Sipitu Dai.
Sebelum masuk masuk ke area pancuran kami diberi arahan dulu bahwa untuk masuk ke area ini harus dengan hati yang bersih dan tidak memiliki hati yang kotor karena dipercaya bagi yang masuk tidak dengan hati bersih akan ada saja bala yang didapatkannya.
![]() |
| Didepan pintu sebelum masuk ucapkan salam : “Horas Opung”. |
Sesuai kepercayaan masyarakat Batak ada keajaiban di objek wisata Aek Sipitu Dai ini, yaitu Air dari satu sumber rasanya berbeda dari masing-masing tujuh pancuran yang ada. Mata Air ini pun dipercaya dapat kami menyembuhkan berbagai penyakit.
![]() |
| Kurang tau apa cerita sejarah yang ada dibalik batu yang berlubang-lubang ini. tempohari lupa menanyakan sama penjaganya, kalau ada yang tau mungkin bisa menambahi. |
Sumber mata air yang terletak di bawah pohon rimbun di Desa Aek Sipitu Dai. Adapun ketujuh pancuran mata air tersebut yaitu:
Pancuran I : merupakan Aek Poso khusus untuk ibu memandikan anak-anak yang belum memiliki gigi, karena anak-anak tersebut tidak bisa dibawa ke mata air.
Pancuran II : merupakan pemandian kaum ibu yang telah berusia uzur atau tidak bisa lagi melahirkan maupun wanita mandul
Pancuran III : merupakan pemandian kaum ibu muda yang sedang mengandung atau kaum ibu yang masih ada harapan mengandung/melahirkan
Pancuran IV : disebut Paridian Sibaso (Pemandian Wanita Pengobati) yang berfungsi untuk membantu persalinan, letaknya mengarah ke pembuangan karena Sibaso biasanya memegang anak-anak kotor (proses persalinan).
Pancuran V : disebut Paridian Pangulu yang merupakan tempat pemandian kaum lelaki yang berusia tua atau uzur.
Pancuran VI : disebut Paridian Doli-Doli merupakan pemandian lelaki muda yang merupakan keturunan Guru Tatea Bulan
Pancuran VII : disebut Paridian Hela dipakai oleh Kaum lelaki (Menantu) yang memperistri wanita keturunan Guru Tatea Bulan.
Selain membasuh muka disini kami juga merasakan minum air dari tujuh pancuran yang rasanya berbeda-beda. Memang terasa segar dan enak benar waktu sampai di lambung. Rasa airnya manis, asam, tapi benar benar segar. Sebelum dibasuhkan kemuka atau diminum airnya disarankan untuk mengucapkan salam dan menyebutkan niat dan doa yang diinginkan, siapa tau terkabul. Kepercayaan orang disini begitu sih, ya diikutin ajalah. Saya sendiri percaya nya sama Tuhan, tapi orang disini kan masih pemeluk agama Parmalim atau Pelbegu, yang berdoanya sama batu-batu dan patung patung. Pulangnya kami sempatkan membawa air ini untuk diminum diperjalanan. Malah ada yang bawa pulang airnya 1jerigen, hahahaha . . . niat banget kan.
Dari Aek Sipitu Dai kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan kami ke tujuan selanjutnya
Perkampungan masyarakat di tempat kami parkir, umumnya masyarakat tinggal dirumah Bolon yang dibawahnya terdapat kandang ternak. Hewan peliharaan mereka umumnya adalah babi.
Ternak peliharaannya gemuk-gemuk dan berkeliaran begitu saja diperkampungan.
Selesai kunjungan kami di Aek Sipitu Dai, selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Desa Sianjur Mula-mula daerah asal usul suku Batak dan Pusuk Buhit. Yuk ikuti cerita perjalanan kami selanjutnya.
Salam traveller.













0 komentar:
Posting Komentar